Maaf, tulisan ini bukan tulisan tentang kampanye.
Siang tadi, seorang kawan bertanya apakah aku sudah menetapkan pilihan untuk mendukung partai tertentu? Dengan nada nan dingin layaknya seorang vampire baru bangun dari peti mati aku jawab dengan sepenuh perasaan ” Aku Golput “.
Dengan secepat kilat kawanku ini langsung menguliahiku tentang sistem demokrasi Indonesia, pemilihan umum, golput itu haram dan seabrek hal lain yang sudah basi bagiku. Inti dari kuliah 15 menit-nya adalah aku tak diperkenankan oleh kawanku yang sangat menjunjung demokrasi ini untuk golput.
Belum satu menit kawanku berhenti bicara untuk meneguk es teh, seorang kawanku yang lain datang. Dengan pebuh semangat dia bertanya “Men, aku bingung nih mau milih siapa pemilu nanti, ada saran gak, aku percaya pasti pilihan kamu pilihan yang bagus?”
Hehehe, kawanku yang sedang meneguk es teh hampir tersedak dengan heroik mendengan pertanyaan dan permintaan itu. Tapi sebelum kawanku sang penjunjung demokrasi ini bicara, aku langsung mengeluarkan suaraku nan merdu.
“Bener nih mau milih seperti pilihanku? Aku golput!”.
Kawanku yang seperti ribuan warga negara lain yang sedang kebingungan untuk memilih pada pemilu April besok ini terlihat terperanjat terperanjat dan terkaget-kaget dengan fantastis. Untuk menjawab kekagetannya, akupun meneruskan kata-kata saktiku.
“Ya, aku golput. Aku golput bukan karena aku gak memilih lho, justru aku golput karena aku punya pilihan. Aku memilih untuk tidak memilih karena calon DPR yang diusung oleh partai-partai sekarang tak ada bedanya dengan anggota DPR yang sekarang. Gak mutu, Jikapun ada yang beda, gak jelas seperti apa kemampuannya. Sama kayak beli kucing yang dibekep mulutnya, trus dimasukin karung trus dimasukin kontainer yang ditempeli foto muka si kucing di pintunya.”
Lalu kawanku yang hampir tersedak es teh dengan penuh semangat seperti orang berebut sembako murah di permukiman miskin yang banyak terdapat di negeri ini sesegera mungkin mengeluarkan suaranya.
“Ah, kau itu jangan suka mengajak orang lain ke jalan yang sesat. Kalaupun kamu golput kamu jangan mempengaruhi orang lain untuk menyia-nyiakan hak pilih mereka. Walaupun kamu anggap calon DPR sekarang itu gak ada yang bagus, tapi pasti ada yang lebih bagus dari yang terburuk kan. Dan kita wajib untuk memilih pemimpin. Dan menurutku masih banyak calon DPR yang bagus, darai partai xxx (terpaksa disensor) misalnya. Kamu jangan suka mempengaruhi orang lain, mereka itu punya hak untuk memilih.”
Haha, dengan serta merta aku membalas kata-katanya dengan jurus counter attack combo super dumbo.
“Lah, kamu bilang aku gak boleh mempengaruhi pilihan orang lain dalam pemilu, tapi kamu juga baru saja mencoba mempengaruhi temanku ini untuk tidak golput? Dan bukankah dalam kampanye itu para peserta pemilu saling pengaruh mempengaruhi masyarakat untuk memilih mereka?”
Lalu kawanku yang sangat membanggakan sistem demokrasi pancasila ini dengan muka yang sulit kuterjemahkan ekspresinya apakah nahan boker atau nahan ketawa dengan secepat kilat menguarkan selembar uang seribuan untuk membayar est ehnya sambil bilang “Ah, ngomong soal demokrasi sama kamu emang gak pernah nyambung!”. Dan secepat kilat melangkahkan kakinya entah kemana.
Kawanku yang sedang kebingungan sekarang tambah kebingungan. Dengan mulut melompong tanpa eskpresi seperti orang yang tiba-tiba di cium oleh Chelsea Olivia, dia bertanya “Ha…. aku terus harus bagaimana sekarang?”
Setelah menghela napas panjang sepanjang sorban yang membuat prabu Dewatacengkar terjatuh ke laut dan berubah menjadi buaya putih aku menajwab dengan penuh kebijakan seperti Ajisaka.
“Kamu mau memilih kan? Kalau bingung menentukan pilihan akan mendukung siapa, jangan mendukung siapa-siapa. Setiap ada kampanya, kamu ikuti, setiap ada iklan politik, kamu cerna jannji dan kata-kata mereka, kalau ada debat parati di TV, tonton. Tapi ingat, jangan dukung satu partaipun. Kumpulkan kelebihan dan kekurangan partai-partai yang ada, catat kalau perlu. Setelah itu kamu pertimbangkan mana calon terbaik untuk kamu pilih. Dan sekali lagi ingat. Selama masa kampannye, kamu boleh golput, tapi begitu kamu masuk bilik suara, degan penuh keyakinan, pilih salah satu calon wakilmu yang paling kamu percaya. “
Dengan sedikit senyuman kawanku ini langsung bilang padaku. “Jadi kamu nggak golput nih?”
Aku jawab dengan senyum pula “Sekarang aku golput, tapi ketika saatnya nanti aku akan memilih orang yang baik dan layak untuk kupilih.”
Dan tiba-tiba, penjual HIk tempatku nongkrong langsung berkata dengan semangatnya “Kalau gitu aku milih mas Ndaru aja deh.”
Dan diskusi politik di warung HIk belakang kampus sore itu diakhiri dengan gelak tawa kami bertiga.
Setelah tak baca lagi ternyata ini tulisan tentang kampanye….
tapi yang jelas tulisan ini bukan tulisan tentang pertamax.
Yang lebih menyedihkan mereka menggunakan dalih agama untuk golput:
http://sinauislam.wordpress.com/2009/03/17/top-10-alasan-sesat-wajibnya-pemilu/
Kalo sih golput karna pemimpinya ga ada yang jelas, ampir golput sih
kalau semua golput lalu untuk apa kita teriak teriak sebuah perubahan
pedy : tul. Masak hak diharamkan jika tak diambil. Sekalian aja di UU dijadiin kewajiban.
Raffaell : aku kira pemimpinnya jelas, hanya layak di pilih atau gak?
omiyan : kalo golput semua di pemilu ini, pasti bakal ada perubahan!
BANYAK PARTAI BIKIN BINGUNG
Sudah menjadi pedoman hatiku, bahwa dalam pemilihan umum 2009 kita harus menentukan pilihan secara bijaksana. Tapi semua partai peserta pemilu, tiada kupandang tinggi, semua sama tak sapun mendapat keistimewaan.
Karena bingung, aku membuat suatu undian. Di atas sekelumit kertas kutulis nama-nama partai. Akhirnya kertas itu kugulung sama serta kumasukkan dalam sebuah kotak kosong, yang kemudian kugoncang-goncangkan.
Dengan mata terpejam kuambil sebuah diantara gulungan-gulungan kertas itu. Ketika gulungan itu sudah kukembangakan, kubuka mataku secara perlahan-lahan. Jantungku turut berdebar keras, Ketika salah seorang di antaranya memperoleh kemenangan.
Ketahuailah… bahwa yang berhasil memperoleh kemenangan adalah……………………………
inilah gambaran bimbang masyarakat, apa yang dijanjikan partai politik tak jua mencapai biduk kebahagiaan.
sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/
redaksi : nah, metode macam arisan diatas itu lebih bahaya daripada golput yang diharamkan…
lha kalok aku yang nyaleg di dapilmu, apa kamu masih nekat golput juga Le?
*kedip kedip najis*
betewe, udah baca postingannya Herman yang ini? keren Lhooo…
neng nyang diatas : wah… ini yang ditunggu-tunggu. Tak coblos kamu Wi…
berpikir untuk memilih setelah kesekian kalinya golput