Setahun lalu, di kaki gunung merapi, saat aku menemani beberapa rekan mengambil sampel getaran gempa, aku menangis. kupikir nyawaku ini bakal habis saat itu. Goncangan besar kurasakan, tepat saat aku e’ol (hihihihi), dalam hati langsung teriakku, Ya Tuhan, apakah setega ini Engkau memberiku akhir hidup tepat ketika aku e’ol. Enam menit aku memeluk pohon kecil disampingku, berharap sang pohon dapat memanyungiku dari hujan lahar atau terjangan awan panas.
Tapi ternyata ajalku belum datang saat itu, mungkin tuhan kasihan melihatku harus menjemput aja dengan belepotan penuh limbah buangan. Merapi tetap kokoh, tak ada semburan lahar, tak ada longsoran batu, tak ada terjangan awan panas. Aku tertawa, seolah aku baru saja memenangkan lotre. Coba saja bayangkan, anda baru saja selamat dari ajal sambil e’ol yang hampir saja menimpamu.
Satu jam kemudian akupun turun bersama rekan-rekanku. Ingin segera aku teriak di depan semua orang “aku masih hidup”. tapi ketika kulihat sisi selatan ke kota jogja, bibirku terkunci, kulihat pemandangan yang tak biasa. Yaa Allah, apakah gempamu kau arahkan ke bawah sana.
3 jam kemudian aku meyadari, bahwa gempa besar tadi, bukanlah ulah merapi, tetapi adalah, ulah lempengan daratan di selatan pulau jawa. Ribuan rumah hancur, ribuan nyawa hilang, ribuan anak keilangan ibunya, ribuan istri kehilangan suaminya, ribuan kambing kehilangan gembalanya, dan aku kehilangan senyumanku.
sedikit ingatan tentang jojga setahun laluÂ
Jika saya inget dulu, 1 bulan pertama saya terus berada di prambanan dan wedi, jadi relawan. pulang seminggu, berangkat lagi sebulan ke sana. dulu ribuan rumah rata dengan tanah, sekarang, masih ribuan pula tetap rata denan tanah. aku masih tetap menangis sekarang…………
saat jadi relawan di prambanan semua rumah pada retak… menurunkan semua genting yang masih bisa dipakai dan merubuhkan tembok yang memang harus di hancurkan… hingga saat ini saya belum datang lagi kesana… jadi ya ga tau perkembangan disana..
tapi jika melihat teman2 di bantul hingga saat ini masih ada yang tidur di tempat yang kurang layak… rumah mereka yang rubuh belum juga selesai di bangun… namun aku bangga karena mereka tetap tersenyum ceria….
Ya…kita dan mereka pun masih menangis….
setahun tidaklah cukup menghapus rasa itu…
10 tahun? Mungkin juga kepedihan itu tak kan pernah terhapus…
YAng penting sekarang kita belajar dari semua ini
di bilang ingin di lupakan..tapi ko terlalu sulit dan menyakitkan ya??
bencana kenapa dtg berturut2 bgini ya?? *menghela nafas dramatis*
Pengalaman yang mendebarkan sekaligus mengharukan…
Ikut prihatin dengan kondisi di sana. Moga2 bisa terus berbenah supaya Yogya betul2 jadi Yogya the never ending asia…
Wuzzz, padahal pagi ini aku baru denger berita. Kalo ternyata tragedi lumpur lapindo juga udah setahun. *salah denger gak aku negh*
. Setahun yang lalu, aku masih di lab. Sama mas Andi di lab 1. Pas gonjangan iku… aku lagi wae mangkring buka blog.
We… pas 1 detik 3 detik 5 detik kok semakin gede. Aku ma mas Andi langsung kebirit-birit keluar dari lab *alamak mana di lantai 2 pula*. Pas di depan tangga.. pada langsung berhenti. Pada mikir dua kali “turun apa gak” sampe akhirnya ngececeng nek depan tangga sampe gempa reda
Alhamdulillah, masih diberikan umur.
#9racehime
itu kek na pertanda biar kita pada tobat
Aku sendiri yang tinggal di Bandung, tempat yang dipisahkan oleh jarak merasa hatiku teriris2 waktu pagi2 menyaksikan berita itu di tv.
Jeritan orang-orang yang ketakutan disana seolah-olah ada di sekitarku, sekarangpun kalau ingat jadi merinding! Apalagi yang mengalaminya!
Anda menangis, mereka menangis, akupun ikut menangis. Semoga semuanya diberi ketabahan.
lekaslah bangkit jogya, jangan menunggu janji-janji busuk!, kami semua saudaramu selalu berdoa dan mendukungmu!
waau Anda menyaksikan langsung dan merasakn 6.5 sr dan sebagai pemantau pula, luar biasa! tapi lagi ‘eol yaa bukan ol sambil eol… sempat selesai g ol nya mas…
btw. gempa setahun lalu itu menyisakan kepedihan bukan saja bagi warga Yogya tapi dunia … sungguh tragis alam jika bergeser sedikit saja… ternyata alam itu hidup ya
Sungguh suatu pengalaman yang lucu skaligus mendebarkan ru….
Jadi inget lagi peristiwa yang setahun dah berlalu itu. Seumur-umur belum pernah,,,merasakan goncangan gempa yang begitu besarnya, meski pada waktu itu aku berada di solo, jauh dari pusatnya. Bahkan habis itu kalo ada sesuatu yang bunyi digenteng…kami sekeluarga langsung lari saking traumanya.
ikutan bersedih…
dedex : iya aku juga sempet di prambanan, ngepos di rumahnya pak hidayat nur wahid seminggu. anehnya walopun hampir semua rumah rubuh, mesjid malah masih berdiri semua.
deking : bahkan jika ingin selamanya menangispun bisa pak, hanya apakah kita akan selalu menangis saja……?
9racehime : kenapa …? mungkin karena kita tak pernah berhenti mengundang bencana ke tanah kita.. ENTAHLAH
elpalimbani : amin…
camagenta : wakakakaka, lu enak cuma di lantai 2, aku malah setara di lantai 15, di bawah merapi lagi..
xwomen : amin. pasti doa anda akan meringankan beban mereka.
peyek : aku juga dukung . (beberapa bulan ini saya masih sering ke klaten juga, di wedi, canan tepatnya, maklum dapet kenalan banyak di sana, sambil silaturahmi, sambil bantu2 dikit)
kurtubi : wuehehehehe, masih sempet saya selesein pak, cuma saya sempet bengong 15 menit baru sadar kalo saya lagi eol.
reni : sebenernya kalo kita bisa meresapi, semua pengalaman kita bisa jadi lucu ato juga jadi sedih…
alief : selamat ikutan sedih
aduh pas lagi e ol… waduh… ga ngebayangin pegangan pohon…untung ga di dalem rumah malah ketiban bata…
mungkin itu jawaban dari alam atas perlakuan kita pada mereka.
manusia dah kurang ber etika pada alam jadi gitu deh.
makanya wujudkan kesadaran bersama untuk mencintai dan menghormati alam. tapi yg lebih penting menghormati pencipta alam yg berkuasa mengatur dan memerintah alam. biar kita aman.
ayo kita mulai dengan hal kecil dari diri kita.
seperti apa ya??
mungkin buang sampah pada tempatnya atau mendaur ulang ampah kali ya.
pokonya kita selamatkan rame2……..
heeeeee
salam